Televisi sebagai Media Pembelajaran

A. SEJARAH TELEVISI

  • Pada tahun 1873 seorang operator telegram menemukan bahwa cahaya mempengaruhi resistansi elektris selenium. Ia menyadari itu bisa digunakan untuk mengubah cahaya kedalam arus listrik dengan menggunakan fotosel silenium (selenium photocell). Kemudian piringan metal kecil berputar dengan lubang-lubang didalamnya ditemukan oleh seorang mahasiswa yang bernama Paul Nipkow di Berlin, Jerman.
  • Tahun 1884 dan disebut sebagai cikal bakal lahirnya televisi.
  • Sekitar tahun 1920 John Logie Baird dan Charles Francis Jenkins menggunakan piringan karya Paul Nipkow untuk menciptakan suatu sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, serta penerimaannya. Mereka membuat seluruh sistem televisi ini berdasarkan sistem gerakan mekanik, baik dalam penyiaran maupun penerimaannya. Pada waktu itu belum ditemukan komponen listrik tabung hampa (Cathode Ray Tube).
  • Sampai akhirnya Vladimir Kosmo Zworykin dan Philo T. Farnsworth berhasil dengan TV elektroniknya.

 

B. PENGERTIAN TELEVISI

Televisi berasal dari kata tele dan visie, tele artinya jauh dan visie artinya penglihatan, jadi televisi adalah penglihatan jarak jauh atau penyiaran gambar-gambar melalui gelombang radio. (Kamus Internasional Populer: 196)
Televisi sama halnya dengan media massa lainnya yang mudah kita jumpai dan dimiliki oleh manusia dimana-mana, seperti media massa surat kabar, radio, atau komputer. Televisi sebagai sarana penghubung yang dapat memancarkan rekaman dari stasiun pemancar televisi kepada para penonton atau pemirsanya di rumah, rekaman-rekaman tersebut dapat berupa pendidikan, berita, hiburan, dan lain-lain.
Yang dimaksud dengan televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel (Arsyad, 2002: 50). Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektrik dan mengkonversikannya kembali ke dalam cahaya yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar.
Televisi adalah sistem adalah elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang.

Televisi pendidikan adalah penggunaan program video yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu tanpa melihat siapa yang menyiarkan. Televisi pendidikan tidak sekedar menghibur tetapi yang lebih penting adalah mendidik. Oleh karena itu, memiliki ciri-ciri tersendiri, antara lain yaitu :

  1. Dituntun oleh instruktur-seorang guru atau instruktur menuntun siswa melalui pengalaman-pengalaman siswa.
  2. Sistematis-siaran berkaitan dengan mata pelajaran dan silabus dengan tujuan dan pengalaman belajar yang terencana.
  3. Teratur dan berurutan-siaran disajikan dengan selang waktu yang beraturan secara berurutan dimana satu siaran dibangun atau mendasari siaran lainnya, dan
  4. Terpadu- siaran berkaitan dengan pengalaman belajar lainnya seperti latihan, membaca, diskusi, laboratorium, percobaan, menulis, dan pemecahan masalah.

 

C. TUJUAN DAN FUNGSI TELEVISI

a.  Tujuan

mengenai tujuan secara umum adanya televisi atau penyiaran di Indonesia, adalah sebagai berikut:

1.      Menumbuhkan dan mengembangkan mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2.      Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dan

3.      Mengembangkan masyarakat adil dan makmur

b.  Fungsi

Pada dasarnya televisi sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan oleh pemilik atau pemanfaat untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan dan sebagainya. Fungsi televisi secara umum menurut undang-undang penyiaran, dapat kita deskripsikan bahwa fungsi televisi sangat baik karena memiliki fungsi sebagai berikut:

1.      Media informasi dan penerangan

2.      Media pendidikan dan hiburan

3.      Media untuk memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya

4.      Media pertahanan dan keamanan

 

D. MANFAAT DAN MUDARAT TELEVISI
a. Manfaat Televisi

Televisi memang tidak dapat difungsikan mempunyai manfaat dan unsur positif yang berguna bagi pemirsanya, baik manfaat yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor. Namun tergantung pada acara yang ditayangkan televisi
Manfaat yang bersifat kognitif adalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau informasi dan keterampilan. Acara-acara yang bersifat kognitif di antaranya berita, dialog, wawancara dan sebagainya. Manfaat yang kedua adalah manfaat afektif, yakni yang berkaitan dengan sikap dan emosi. Acara-acara yang biasanya memunculkan manfaat afektif ini adalah acara-acara yang mendorong pada pemirsa agar memiliki kepekaan sosial, kepedulian sesama manusia dan sebagainya. Adapun manfaat yang ketiga adalah manfaat yang bersifat psikomotor, yaitu berkaitan dengan tindakan dan perilaku yang positif. Acara ini dapat kita lihat dari film, sinetron, drama dan acara-acara yang lainnya dengan syarat semuanya itu tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada di Indonesia ataupun merusak akhlak pada anak.
Televisi menarik minat baik terhadap orang dewasa khususnya pada anak-anak yang senang melihat televisi karena tayangan atau acara-acaranya yang menarik dan cara penyajiannya yang menyenangkan.

b. Mudarat Televisi

Kemudaratan yang dimunculkan televisi memang tidak sedikit, baik yang disebabkan karena terapan kesannya, maupun kehadirannya sebagai media fisik terutama bagi pengguna televisi tanpa dibarengi dengan sikap selektif dalam memilih berbagai acara yang disajikan. Dalam konteks semacam ini maka kita dapat melihat beberapa kemudaratan itu sebagai berikut:

1.  Menyia-nyiakan waktu dan umur.

Mengingat waktu itu terbatas, juga umur kita, maka menonton televisi dapat dikategorikan menyia-nyiakan waktu dan umur, bila acara yang ditontonnya terus menerus bersifat hiburan di dalamnya (ditinjau secara hakiki) merusak aqidah kita ini mesti disadari karena kita diciptakan bukan untuk hiburan tapi justru untuk beribadah.

2.  Melalaikan tugas dan kewajiban.

Kenyataan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, juga sudah menunjukan dengan jelas dan tegas bahwa menonton televisi dengan acaranya yang memikat dan menarik sering kali membawa kita pada kelalaian. Televisi bukan hanya membuat kita terbius oleh acaranya, namun pula menyeret kita dalam kelalaian tugas dan kewajiban kita sehari-hari. Misalnya banyak orang yang malas untuk sholat ke mesjid karena mereka terbius oleh acara atau tayangan televisi.

3. Menumbuhkan sikap hidup konsumtif

Ajaran sikap dan pola konsumtif biasanya terkemas dalam bentuk iklan dimana banyak iklan yang berpenampilan buruk yang sama sekali tidak mendidik masyarakat ke arah yang lebih baik dan positif.

4.  Mengganggu kesehatan

Terlalu sering dan terlalu lama memaku diri di hadapan televisi untuk menikmati berbagai macam acara yang ditayangkan cepat atau lambat akan menimbulkan gangguan kesehatan pada pemirsa. Misalnya kesehatan mata baik yang disebabkan karena radiasi yang bersumber dari layar televisi maupun yang disebabkan karena kepenatan atau kelelahan akibat nonton terus menerus.

5.  Alat transportasi kejahatan dan kebejatan moral

Sudah merupakan fitrah, bahwa manusia memiliki sifat meniru, sehingga manusia yang satu akan meniru cenderung untuk mengikuti manusia yang lain, baik dalam sifat, sikap maupun tindakannya. Dalam hal adanya berbagai sajian program dan acara yang disiarkan di televisi misalnya, film, sinetron, musik, drama dan lain sebagainya yang paling dikhawatirkan adalah jika tontonan tersebut merupakan adegan dari kebejatan moral contohnya, pembunuhan, pemerkosaan, pornografi yang tentu saja sedikit atau banyak akan ditiru oleh para pemirsa sesuai fitrahnya’

6. Memutuskan silaturahmi

Dengan kehadiran televisi di hampir setiap rumah tangga, banyak orang yang merasa cukup memiliki teman atau sahabat yang setia, melalui kenikmatan yang didapat dari berbagai acara televisi yang disajikan di tempat tinggalnya. Akibatnya mereka tidak lagi merasa membutuhkan teman, kawan, sahabat untuk misalnya; saling berbagi suka dan duka, saling bertukar pikiran dan berbagai keperluan lainnya sebagaimana layaknya hidup dan kehidupan suatu masyarakat yang islami.

7.  Mempengaruhi dan menurunkan prestasi belajar murid

Dalam hal penyebab kemunduran prestasi belajar murid generasi muda dewasa ini, indikasinya adalah kehadiran televisi di tempat tinggal mereka. Lantaran berbagai macam acara hiburan yang ditayangkan dalam televisi yang memikat dan menggiurkan para pelajar. Ternyata mampu memporakporandakan jadwal waktu belajar mereka untuk disiplin waktu belajar, karena mereka sudah terbius oleh pengaruh hingar bingar dan kenikmatan yang ditawarkan oleh berbagai macam hiburan televisi.

8.   Pengaruh tayangan yang berbau mistis, diantaranya adalah :

  • Pola pikir anak cenderung akan mengarah pada pola pikir yang terdoktrin dalam artian anak akan percaya begitu saja tanpa mengetahui runtutan jelas dari akar permasalahan. Pola yang terdoktrinasi seperti pada bahwa Tuhan akan menurunkan bahan makanan dari langit kepada orang yang tokoh lakon (beriman). Walaupun peristiwa seperti itu mungkin saja terjadi dalam kehidupan nyata, tapi permasalahannya adalah anak cenderung akan mengadopsi jalan sesuai apa yang dilakukan tokoh protagonis seperti berdoa, berdzikir hanya dalam kamar tanpa usaha pragsis yang mengarah langsung pada dunia nyata. Pola pikir seperti ini tentunya akan menjadikan anak sebagai individu yang selalu “memotong kompas” dengan hanya berserah diri tanpa usaha dalam dunia nyata, artinya pola pikir pada anak akan cenderung stagnan tanpa ada usaha pembaharuan.
  • Menurunnya daya pengembangan potensi/ bakat karena menurunnya tingkat optimisme serta motivasi internal pada anak seiring dengan kepercayaannya terhadap hal-hal yang bersifat mistis.
  • Tertanamnya pola pikir yang cenderung menyelesaikan masalah dengan kekerasan, ini terkait bahwa tindakan akhir pada tayangan televisi yang menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, seperti pada aksi tokoh protagonist dalam menghukum tokoh antagonist dengan menggunakan cara kekerasan dan pembunuhan. Sehingga motivasi anak akan menjadi motivasi untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan/fisik.
  • Memandang agama dari kacamata sadisme, disini pola pikir pada anaka akan mengarah bahwa perintah dalam agama harus dilakukan, karena akan ada hukuman yang mengerikan ketika manusia tidak melaksanakannya.
  • Timbulnya perasaan phobia dalam dunia nyata.

9.  Pengaruh tayangan yang memiliki unsur sadisme akan memiliki potensi tingkat imitasi pada anak berupa :

  • Tertanamnya pola pikir yang cenderung menyelesaikan masalah dengan kekerasan, ini terkait bahwa tindakan akhir pada tayangan televisi yang menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, seperti pada aksi tokoh protagonist dalam menghukum tokoh antagonist dengan menggunakan cara kekerasan dan pembunuhan. Sehingga motivasi anak akan menjadi motivasi untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan/fisik.
  • Memandang agama dari kacamata sadisme, disini pola pikir pada anaka akan mengarah bahwa perintah dalam agama harus dilakukan, karena akan ada hukuman yang mengerikan ketika manusia tidak melaksanakannya.
  • Timbulnya perasaan phobia dalam dunia nyata.

E.  KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TELEVISI

Proses belajar adalah proses insight yang didefinisikan sebagai pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antara bagian-bagian didalam suatu situasi permasalahan. Pada anak proses ini sangat berperan penting apalagi dalam tontonan yang berbau mistis serta sadis mengingat masa anak adalah masa imitasi. Proses insight pada anak tergantung pada kemampuan dasar yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lainnya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar melalui program televisi untuk berbagai mata pelajaran dapat menguasai mata pelajaran tersebut sama seperti mereka yang mempelajarinya melalui tatap muka dengan guru kelas. Meskipun televisi memiliki ber bagai kelebihan dalam menyampaikan pesan dan materi pelajaran, televisi juga mempunyai kelemahan seperti berikut ini :

a. Kelebihan

1.      Televisi dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio-visual termasuk gambar diam, film, objek, spesimen, drama.

2.      Televisi bisa menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi siswa.

3.      Televisi dapat membawa dunia nyata kerumah dan ke kelas-kelas, seperti orang, tempat-tempat, dan peristiwa-peristiwa, melalui penyiaran langsung atau rekaman.

4.      Televisi dapat memberikan kepada siswa peluang untuk melihat dan mendengar diri sendiri.

5.      Televisi dapat menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh siswa dengan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda-beda.

6.      Televisi dapat menyajikan visual dan suara yang amat sulit diperoleh pada dunia nyata; misalnya ekspresi wajah, dan lain-lain.

7.      Televisi dapat menghemat waktu guru dan siswa, misalnya dengan merekam siaran pelajaran yang disajikan dapat diputar ulang jika diperlukan tanpa harus melakukan proses itu kembali. Disamping itu, televisi merupakan cara yang ekonomis untuk menjangkau sejumlah besar siswa pada lokasi yang berbeda-beda untuk penyajian yang bersamaan.

8.      Televisi dapat menerima, menggunakan dan mengubah atau membatasi semua bentuk media yang lain, menyesuaikannya dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai.

9.      Televisi merupakan medium yang menarik, modern dan selalu siap diterima oleh anak-anak karena mereka mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan luar sekolah mereka.

10. Televisi sifatnya langsung dan nyata. Dengan televisi siswa tahu kejadian-kejadian mutakhir, mereka bisa mengadakan kontak dengan orang-orang besar/terkenal dalam bidangnya, melihat dan mendengarkan mereka berbicara.

11. Hampir setiap mata pelajaran bisa di televisikan

12. Televisi dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru dalam hal mengajar.

b.   Kelemahan

1.      Televisi hanya mampu menyajikan komunikasi satu arah.

2.      Televisi pada saat disiarkan akan berjalan terus dan tidak ada kesempatan untuk memahami pesa-pesannya sesuai dengan kemampuan individual siswa.

3.      Guru tidak memiliki kesempatan untuk merevisi film sebelum disiarkan.

4.      Layar pesawat televisi tidak mampu menjangkau kelas besar sehingga sulit bagi semua siswa untuk melihat secara rinci gambar yang disiarkan.

5.      Kekhawatiran muncul bahwa siswa tidak memiliki hubungan pribadi dengan guru, dan siswa bisa jadi bersikap pasif selama penayangan.

6.      Harga pesawat TV relatif murah;

7.      Jika akan dimanfaatkan di kelas jadwal siaran dan jadwal pelajaran di sekolah sering kali sulit disesuaikan

8.      Program di luar kontrol guru, dan

9.      Besarnya gambar dilayar relatif kecil dibanding dengan film, sehingga jumlah siswa yang dapat memanfaatkan terbatas.
Berangkat dari sini kemudian timbul berbagai kemungkinan pengaruh tayangan yang berbau mistis, diantaranya adalah :

Sumber :

http://www.3m0-wonokampir.co.cc/2010/01/media-pembelajaran-televisi.html

http://adipsi.blogspot.com/2010/06/pengaruh-televisi-terhadap-pembelajaran.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s